Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas merupakan momen bersejarah untuk menghormati jasa seorang tokoh penting dalam kemajuan pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara. Ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1961, peringatan ini diadakan bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yang jatuh pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dengan nama asli R.M. Suwardi Suryadingrat.
Sosok Ki Hajar Dewantara tak terpisahkan dari sejarah pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman kolonial Belanda. Beliau berani mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak Belanda dan priyayi mengenyam pendidikan. Tulisannya yang berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” yang berarti “seandainya aku seorang belanda” dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” yang berarti “satu untuk semua, tetapi semua untuk satu juga” memicu kemarahan penjajah.

Atas kritikannya tersebut Ki Hajar Dewantara dibuang bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke Pulau Bangka. Namun, mereka menolak dan memilih untuk dibuang ke Belanda. Selanjutnya ketiga tokoh tersebut lebih dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.
Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa yang menanamkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Ki Hajar Dewantara juga aktif menulis karya-karya tentang pendidikan dan kebudayaan bernafaskan nasionalisme, meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah memberi gelar “Bapak Pendidikan” dan menetapkan hari kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Sumber: Dari berbagai sumber